Cita-Cita SMK AL-HUDA KOTA



SISWA SMK AL-HUDA INGIN MEMBUAT MOTOR TANPA DI-CHARGE


Hasil gambar untuk MOTOR LISTRIK







Apa saja oleh-oleh para siswa SMK Al Huda dari Tiongkok yang bisa dikembangkan di Kediri? Qais Wifa Tajid ternyata tertarik membuat sepeda motor listrik tanpa menggunakan baterai re-charge. Siswa kelas XI jurusan teknik sepeda motor ini mengaku terkagum melihat perkembangan teknologi di Tiongkok.

“Hampir semua motor dan mobil di Tiongkok menggunakan tenaga listrik. Hanya mobil pengangkut barang berat dan motor sport saja yang menggunakan bahan bakar minyak,” terangnya.

Selama di Tiongkok, Qais sering mengamati kendaraan bermotor bertenaga listrik. Bahkan, karena terlalu sering mengamati kendaraan bermotor, dia sering tertinggal rombongan. Dari hasil pengamatannya, sepeda motor listrik di Tiongkok tidak perlu di isi ulang. “Sepeda motor listrik di sana menggunakan generator. Ketika sepeda motor berjalan, generator hidup dan secara otomatis menghasilkan listrik,” jelasnya.

Sepulang dari Tiongkok, anak pasangan Rohman Rokim Himawan dan Ariatin ini berambisi membuat sepeda motor listrik tanpa re-charge itu. “Ini oleh-oleh saya dari Tiongkok yang akan saya kembangkan di sekolah,” tegasnya mantap.

Ada satu lagi yang sangat dikaguminya dari masyarakat Tiongkok. Kesadaran dalam berlalu lintas sangat baik. Pengendara mobil sangat menghargai pengendara motor dan sepeda. “Jika terjadi kecelakaan lalu lintas, mereka tidak  gontok-gontokan di jalan,” terangnya.

Bagaimana dengan yang lain? Faisal dan Azizah lebih tertarik dengan desain grafis iklan yang bagus dan bisa dikembangkan di Kediri. Menurut Faizal, desain iklan di Tiongkok sangat sederhana tapi enak dipandang. Pesannya pun mengena. Kemasan produk makanan juga didesain sangat menarik.

Selain itu, Tiongkok sangat menghargai hasil karya desain iklan. Terbukti, iklan-iklan di pinggir jalan ditata rapi dengan bentuk sangat menarik.

“Di sini iklan sekadar ditempelkan dan semrawut, mengganggu pandangan dan keindahan kota. Ini bentuk tidak menghargai karya desain grafis,” ungkap siswa jurusan multimedia yang juga pernah mengikuti pertukaran pelajar di Chonburi, Thailand.

Tiongkok juga menjaga produk dalam negeri. Contohnya, Tiongkok tidak memperbolehkan Google masuk. Mereka menciptakan sendiri teknologi yang melebihi google, seperti Wea Bo.

Sedangkan Azizah akan berusaha menularkan virus kebaikan kepada teman dekat, keluarga dan orang-orang di sekitarnya tentang budaya disiplin dan menjaga kebersihan lingkungan. Termasuk tidak membuang sampah di sungai. “Di Tiongkok, taman-taman tertata rapi dan bersih. Juga perbaikan fasilitas unum sangat bagus dan cepat,” jelasnya.

Adapun Adhe Kuncoro mendapatkan pengalaman bahwa Tiongkok maju karena rakyatnya yang berduit berkolaborasi dengan orang-orang yang memiliki ide. “Bagi mereka, melayani itu nomor satu,” katanya.siswa smk al-huda ingin membuat Motor Listriknya Tak Perlu Di-charge

Apa saja oleh-oleh para siswa SMK Al Huda dari Tiongkok yang bisa dikembangkan di Kediri? Qais Wifa Tajid ternyata tertarik membuat sepeda motor listrik tanpa menggunakan baterai re-charge. Siswa kelas XI jurusan teknik sepeda motor ini mengaku terkagum melihat perkembangan teknologi di Tiongkok.

“Hampir semua motor dan mobil di Tiongkok menggunakan tenaga listrik. Hanya mobil pengangkut barang berat dan motor sport saja yang menggunakan bahan bakar minyak,” terangnya.

Selama di Tiongkok, Qais sering mengamati kendaraan bermotor bertenaga listrik. Bahkan, karena terlalu sering mengamati kendaraan bermotor, dia sering tertinggal rombongan. Dari hasil pengamatannya, sepeda motor listrik di Tiongkok tidak perlu di isi ulang. “Sepeda motor listrik di sana menggunakan generator. Ketika sepeda motor berjalan, generator hidup dan secara otomatis menghasilkan listrik,” jelasnya.

Sepulang dari Tiongkok, anak pasangan Rohman Rokim Himawan dan Ariatin ini berambisi membuat sepeda motor listrik tanpa re-charge itu. “Ini oleh-oleh saya dari Tiongkok yang akan saya kembangkan di sekolah,” tegasnya mantap.

Ada satu lagi yang sangat dikaguminya dari masyarakat Tiongkok. Kesadaran dalam berlalu lintas sangat baik. Pengendara mobil sangat menghargai pengendara motor dan sepeda. “Jika terjadi kecelakaan lalu lintas, mereka tidak  gontok-gontokan di jalan,” terangnya.

Bagaimana dengan yang lain? Faisal dan Azizah lebih tertarik dengan desain grafis iklan yang bagus dan bisa dikembangkan di Kediri. Menurut Faizal, desain iklan di Tiongkok sangat sederhana tapi enak dipandang. Pesannya pun mengena. Kemasan produk makanan juga didesain sangat menarik.

Selain itu, Tiongkok sangat menghargai hasil karya desain iklan. Terbukti, iklan-iklan di pinggir jalan ditata rapi dengan bentuk sangat menarik.

“Di sini iklan sekadar ditempelkan dan semrawut, mengganggu pandangan dan keindahan kota. Ini bentuk tidak menghargai karya desain grafis,” ungkap siswa jurusan multimedia yang juga pernah mengikuti pertukaran pelajar di Chonburi, Thailand.

Tiongkok juga menjaga produk dalam negeri. Contohnya, Tiongkok tidak memperbolehkan Google masuk. Mereka menciptakan sendiri teknologi yang melebihi google, seperti Wea Bo.

Sedangkan Azizah akan berusaha menularkan virus kebaikan kepada teman dekat, keluarga dan orang-orang di sekitarnya tentang budaya disiplin dan menjaga kebersihan lingkungan. Termasuk tidak membuang sampah di sungai. “Di Tiongkok, taman-taman tertata rapi dan bersih. Juga perbaikan fasilitas unum sangat bagus dan cepat,” jelasnya.

Adapun Adhe Kuncoro mendapatkan pengalaman bahwa Tiongkok maju karena rakyatnya yang berduit berkolaborasi dengan orang-orang yang memiliki ide. “Bagi mereka, melayani itu nomor satu,” katanya.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »